Jumat, 26 April 2013

SISI MENYEDIHKAN PARA PELAJAR MUSLIM



Pengalaman baru bagi saya, melakukan perdebatan langsung dengan orang atheis. Yang mengejutkan, ternyata banyak dari mereka yang asalnya muslim. Mereka keluar Islam, katanya, konsep ketuhanannya tidak masuk akal.
Bermain bahasa, pengetahuan, logika, dan saling meledek dengan mereka, keteteran juga.
Setelah berkecimpung dalam dialog bersama mereka, juga dengan para non muslim, saya merasa kembali disadarkan untuk lebih banyak lagi membaca. Sebagian orang nonmuslim justeru lebih besar minatnya dalam mendalami pengetahuan keislaman daripada orang muslim sendiri. Itu terbukti saat mereka melancarkan gugatan pada beberapa konsep aqidah Islam dan beberapa fakta sejarah, mereka tahu betul apa yang Islam ajarkan, dan mereka tahu betul fakta-fakta sejarah dalam Islam. Setelah melakukan dialog lebih lama, saya tahu kenapa mereka lebih tahu, ternyata dua sebabnya. Pertama, karena dia memang pada asalnya seorang muslim. Kedua, memang dia bukan seorang muslim, namun punya minat yang besar untuk melakukan pengkajian agama Islam.
John L. Esposito ditanya, apa yang membuatnya tertarik mengkaji Islam?
John menjawab: “Saya mulai tertarik mempelajari Islam akhir tahun 1960-an, ketika dia bermaksud meraih gelar doktor di Temple University dalam bidang kajian agama, khususnya agama budha dan hindu. Tetap universitas tersebut juga mempunyai orang-orang yang profesional dalam bidang pengkajian Islam, diantaranya Ismail Faruqi. Saya sendiri sebenarnya pada waktu itu tidak tertarik kepada Islam. Akan tetapi, direktur program studi agama-agama menyuruh saya untuk mengambil kursus tentang Islam di bawah bimbingan Faruqi. Maka jadilah saya satu diantara murid-murid pertama Faruqi, malah saya adalah orang yang pertama meraih gelar Ph.D di bawah bimbingannya. Faruqi kemudian menyuruh saya untuk belajar Bahasa Arab. Tetapi-sekali lagi-saya waktu itu tidak tertarik kepada Islam, lebih-lebih Bahasa Arab. Akan tetapi, saya ingin meraih gelar saya. Karena itu, saya kemudian memenuhi ujarannya tersebut, dan ternyata saya berhasil mendapatkan ijazah untuk Bahasa Arab. Saya merasa bahwa semakin banyak saya belajar dari Faruqi, saya menjadi semakin tertarik kepada Islam. Lalu antara tahun 1967-1974 saya mulai belajar banyak tentang Islam dan menyelesaikan disertasi saya mengenai wanita dan kedudukannya dalam hukum keluarga Islam. Saya melakukan penetilian di Libanon, Mesir, dan juga Pakistan, sesungguhnya paa akhir tahun 1960-an itulah saya mulai secara intensif mempelajari Islam dengan melakukan banyak observasi langsung ke berbagai negara Islam, dari Sudan sampai ke Indonesia dan melihat bagaimana pengaruh Islam dalam kehidupan dan perubahan sosial-politik.
Menyedihkan, yang tertarik mendalami Islam justru orang non muslim. Sedangkan pemuda muslim sendiri, sebagian besar malas mempelajari Islam. Mereka sungkan untuk mengkaji pengetahuan-pengetahuan tentang keislam, yang  padahal, sebenarnya mereka berkewajiban mempelajari agamanya itu, sebagai dasar dari setiap tindak-tandruk kesehariannya. Jarang sekali dari mereka yang tekun membaca, mempelajari hadits, Al-Qur;an, dan berbagai kitab hasil karya para ulama terdahulu, dan ulama kontemporer. Bahkan orang-orang yang mengaku pelajar muslim sendiri, saya perhatikan lebih banyak menghabiskan waktu untuk hiburan, nonton, merokok, dan menjalani pergaulan yang notabene hanya untuk mencari pasangan alias pacaran. Dan puncak paling menyedihkan dari semua perkara menyedihkan fenomena pelajar muslim adalah, saat tiba waktunya haus menyusun karya tulis berupa skripsi, di mana seharusnya dia melakukan penelitian, pengkajian, dan menyajikannnya ke dalam tulisan sebagai buah karyanya, saya perhatikan, yang terjadi mereka malah melakukan jalan pintas. Skripsi yang seharusnya hasil karya mereka, namun ternyata skripsi itu malah hasil kerja keras orang tuanya. Dengan kata lain, mereka memakai uang hasil kerja keras orang tuanya untuk membeli skripsi.
Akhirnya pelajar muslim itu, keluar dari perguruan tinggi, dengan tas penuh ijazah dan kertas nilai, namun kepala kosong dan hanya berisi nyanyian-nyanyian dan hiburan. Maka dapatlah dimengerti jika pada akhirnya para lulusan perguruan tinggi islam itu mudah sekali tergoda dengan rayuan dunia. Suap berani mereka lakukan demi mendapatkan jabatan, dan ketika suatu ketika harus berdialog dengan orang non muslim tentang agamanya, mereka angkat tangan, menyerah, bahkan yang celaka, mereka terpengaruh dengan aqidah-aqidah sesat yang datang dari orang-orang non muslim.

Kamis, 25 April 2013

Jangan Resah

Beberapa pihak mungkin akan resah dengan tulisan di blog ini. Saran saya, berpikirlah panjang sebelum Anda berreaksi. Siapa tahu apa yang saya teriakkan sesuai dengan nurani Anda. Saya menulis berdasarka renungan, bacaan, pengalaman, dan sudut pandang saya sendiri....jika terjadi kesalahan itu sangat wajat, atas kebodohan dan kekurangan saya sendiri...

Proteslah

Jika sesuatu tak kamu mengerti...proteslah jangan ragu, termasuk kepada dirimu sendiri!