Pengalaman baru bagi saya,
melakukan perdebatan langsung dengan orang atheis. Yang mengejutkan, ternyata
banyak dari mereka yang asalnya muslim. Mereka keluar Islam, katanya, konsep
ketuhanannya tidak masuk akal.
Bermain bahasa, pengetahuan,
logika, dan saling meledek dengan mereka, keteteran juga.
Setelah berkecimpung dalam dialog
bersama mereka, juga dengan para non muslim, saya merasa kembali disadarkan
untuk lebih banyak lagi membaca. Sebagian orang nonmuslim justeru lebih besar
minatnya dalam mendalami pengetahuan keislaman daripada orang muslim sendiri. Itu
terbukti saat mereka melancarkan gugatan pada beberapa konsep aqidah Islam dan
beberapa fakta sejarah, mereka tahu betul apa yang Islam ajarkan, dan mereka
tahu betul fakta-fakta sejarah dalam Islam. Setelah melakukan dialog lebih
lama, saya tahu kenapa mereka lebih tahu, ternyata dua sebabnya. Pertama,
karena dia memang pada asalnya seorang muslim. Kedua, memang dia bukan seorang
muslim, namun punya minat yang besar untuk melakukan pengkajian agama Islam.
John L. Esposito ditanya, apa
yang membuatnya tertarik mengkaji Islam?
John menjawab: “Saya mulai
tertarik mempelajari Islam akhir tahun 1960-an, ketika dia bermaksud meraih
gelar doktor di Temple University dalam bidang kajian agama, khususnya agama
budha dan hindu. Tetap universitas tersebut juga mempunyai orang-orang yang
profesional dalam bidang pengkajian Islam, diantaranya Ismail Faruqi. Saya
sendiri sebenarnya pada waktu itu tidak tertarik kepada Islam. Akan tetapi,
direktur program studi agama-agama menyuruh saya untuk mengambil kursus tentang
Islam di bawah bimbingan Faruqi. Maka jadilah saya satu diantara murid-murid pertama
Faruqi, malah saya adalah orang yang pertama meraih gelar Ph.D di bawah
bimbingannya. Faruqi kemudian menyuruh saya untuk belajar Bahasa Arab. Tetapi-sekali
lagi-saya waktu itu tidak tertarik kepada Islam, lebih-lebih Bahasa Arab. Akan tetapi,
saya ingin meraih gelar saya. Karena itu, saya kemudian memenuhi ujarannya
tersebut, dan ternyata saya berhasil mendapatkan ijazah untuk Bahasa Arab. Saya
merasa bahwa semakin banyak saya belajar dari Faruqi, saya menjadi semakin
tertarik kepada Islam. Lalu antara tahun 1967-1974 saya mulai belajar banyak
tentang Islam dan menyelesaikan disertasi saya mengenai wanita dan kedudukannya
dalam hukum keluarga Islam. Saya melakukan penetilian di Libanon, Mesir, dan
juga Pakistan, sesungguhnya paa akhir tahun 1960-an itulah saya mulai secara
intensif mempelajari Islam dengan melakukan banyak observasi langsung ke
berbagai negara Islam, dari Sudan sampai ke Indonesia dan melihat bagaimana
pengaruh Islam dalam kehidupan dan perubahan sosial-politik.
Menyedihkan, yang tertarik
mendalami Islam justru orang non muslim. Sedangkan pemuda muslim sendiri,
sebagian besar malas mempelajari Islam. Mereka sungkan untuk mengkaji
pengetahuan-pengetahuan tentang keislam, yang
padahal, sebenarnya mereka berkewajiban mempelajari agamanya itu,
sebagai dasar dari setiap tindak-tandruk kesehariannya. Jarang sekali dari
mereka yang tekun membaca, mempelajari hadits, Al-Qur;an, dan berbagai kitab
hasil karya para ulama terdahulu, dan ulama kontemporer. Bahkan orang-orang
yang mengaku pelajar muslim sendiri, saya perhatikan lebih banyak menghabiskan
waktu untuk hiburan, nonton, merokok, dan menjalani pergaulan yang notabene
hanya untuk mencari pasangan alias pacaran. Dan puncak paling menyedihkan dari
semua perkara menyedihkan fenomena pelajar muslim adalah, saat tiba waktunya
haus menyusun karya tulis berupa skripsi, di mana seharusnya dia melakukan
penelitian, pengkajian, dan menyajikannnya ke dalam tulisan sebagai buah
karyanya, saya perhatikan, yang terjadi mereka malah melakukan jalan pintas. Skripsi
yang seharusnya hasil karya mereka, namun ternyata skripsi itu malah hasil
kerja keras orang tuanya. Dengan kata lain, mereka memakai uang hasil kerja
keras orang tuanya untuk membeli skripsi.
Akhirnya pelajar muslim itu,
keluar dari perguruan tinggi, dengan tas penuh ijazah dan kertas nilai, namun
kepala kosong dan hanya berisi nyanyian-nyanyian dan hiburan. Maka dapatlah
dimengerti jika pada akhirnya para lulusan perguruan tinggi islam itu mudah
sekali tergoda dengan rayuan dunia. Suap berani mereka lakukan demi mendapatkan
jabatan, dan ketika suatu ketika harus berdialog dengan orang non muslim
tentang agamanya, mereka angkat tangan, menyerah, bahkan yang celaka, mereka
terpengaruh dengan aqidah-aqidah sesat yang datang dari orang-orang non muslim.