Sabtu, 11 Mei 2013

KETIKA MEMANG HARUS BERDEBAT


Berbahagialah jika memang suatu ketika harus berdebat dengan orang lain, perdebatan bisa menjadi jalan menjalin hubungan dengan catatan, dalam perdebatan itu kita tetap menahan emosi dan keanggunan. Saya menemukan kisah bagus dalam buku “7 Kesalahan Terbesar Orang Tua”. Dikisahkan di sana seorang suami yang selalu menghindari masalah dalam keluarganya. Jika terjadi perdebatan dengan istrinya dia lebih suka mengalah, dan membiarkan si istri berbuat sekehendak hatinya. Dan karena si istri lahir dari keluarga yang disiplin, cara mendidik anaknya dengan keras dan itu membuat si anak senang melawan. Melihat kenyataan itu, Eric jadi semakin sungkan berlama-lama tinggal di rumah, seringnya dia pergi keluar, mencari ketenangan. Masalah pun semakin rumit.
Kemudian suami istri itu mendatangi psikolog untuk mengkonsultasikan masalah ini. Mereka ceritakan segala masalah yang mereka alami. Ketika psikolog menanyakan bagaimana pola penyelesaian di keluarga Eric dulu, Eric menjelaskan bahwa ayahnya sama seperti dia, lebih suka menghindari masalah jika terjadi perdebatan dengan ibunya, dan itu membuat Eric takut membela diri dan memperlihatkan kemarahan secara terbuka.
Erik menjadi suami yang takut membela diri dan menyatakan kemarahan secara terbuka. Seperti ayahnya, Eric lebih suka mengalah pada Pamela, istrinya, dan dengan melakukan ini, sebenarnya dia mengecewakan istrinya. Eric membiarkan istrinya bertindak sesukanya sesuai yang dia yakini sekalipun tindakan istrinya itu membahayakan dirinya, anaknya, dan si istri sendiri.
Itulah sebabnya, sikap Eric yang senangnya mengalah kepada istrinya menjadi masalah dalam keluarganya. Di depan psikolog dia menjelaskan: “Jadi, salah satu kelemahan masa kecil saya adalah ketakutan mengungkapkan diri sendiri, menyebabkan saya  selalu mengalah sepanjang waktu.”
Istrinya berkata, bahwa setiap kali muncul masalah, dia berharap Eric turun tangan dan menghentikannya. Eric menjawab, bahwa jika dia melakukan itu, Pamela akan marah kepadanya. Sang psikolog bertanya pada Eric, apakah dia mau menghadapi kemarahan pamela sebentar?. Eric menjawab, mungkin saja dia biasa, akan tetapi dia tidak akan menyukainya. Kemudian Eric berkata kepada istrinya:”Pamela, aku harap kau lebih bisa mengusai diri. Kamu telah memanjakan Bobby sejak lahir karena kau ingin melampiaskan...”
Mendengar itu, kemarahan istrinya mulai tampak. Segera psikolog berkata: “Eric, hentikan!”, dan Eric berhenti, kemudian kata psikolog lagi: “Kami ingin Anda mengulang apa yang Anda katakan, tetapi tanpa mempermalukan, menyalahkan, menuduh atau membuat analisis psikologis. Apa yang benar-benar Anda inginkan dari Pamela di masa mendatang?”
Eric berkata: “Pamela, aku akan berusaha turun tangan seperti yang kau minta. Yang aku inginkan adalah kau mengatakan kepadaku ketika kau merasa ingin menyerah kepada perasaan-perasaan itu—beri tanda kepadaku dengan cara apa pun.”
Wajah Pamela melunak dan dia berkata: “Aku bisa mengusahakannya Eric. Aku sangat terbantu hanya dengan mengetahui kau mau mendengar apa yang kurasakan tentang ini. jadi aku tidak akan merasa begitu terkucil dan sendiri dengan perasaan-perasaan ini.”
“Mengungkapkan perasaan akan mengurangi banyak kekuatan perasaan-perasan itu,” kami berkata,”Dan berbagi perasaan kalian—sekalipun sedang marah—akan saling mendekatkan kalian.
Kedua suami istri itu memahaminya. Mereka menyadari, semakin mereka terpisah, semakin dekat mereka jadinya. Mereka mulai melihat, bahwa masing-masing mempunyai masalah sendiri yang harus diatasi dan tidak ada yang melakukan pergulatan itu untuk mereka. Ini proses yang disebut individuasi. Pada waktu yang sama, mereka mulai melihat bahwa mereka dapat menjadi sekutu masing-masing dalam pergulatan itu—mereka tidak perlu menghadapi masalah dalam kesendirian. Dan kemudian psikolog itu meminta mereka mengatakan apa yang mereka hargai tentang masalah masa kecil masing-masing, yang membuat keduanya terdiam sesaat.
Pamela akhirnya berkata: “Eric, aku benar-benar menyukai kelembutan dan keinginanmu untuk menekan konflik. Itu salah satu alasan mengapa aku jatuh cinta kepadamu.
Eric berkata: “Pamela, aku menyukai kenyataan bahwa kau begitu teratur dan begitu ingin membuat hidup Bobby menyenangkan. Kau ibu yang baik.”
Mata Pamela berkaca-kaca: “Oh, Eric,” katanya. “Ini bukan akhir perkawinan kita. ini justeru permulaan.”
Eric tersenyum dan menanggapi, “Bukankah ini menakjubkan? Sehari setelah kita mengira segalanya selesai adalah hari semuanya dimulai. Sudah lama sekali kita memerlukan pertengkaran itu.
Pamela berkata, “Aku tahu. Ini sudah menumpuk. Dan kita berdua terlalu takut mengeluarkannya sampai saat ini. Rasanya jauh lebih baik.”
Kisah itu kembali memberikan pelajaran penting kepadaku, konflik yang terjadi bersama orang lain itu justeru kesempatan menyambungkan kasih sayang dengan orang tersebut. Masalah dalam hubungan dengan orang adalah peluang mempererat hubungan itu.

KETIKA MEMANG HARUS BERDEBAT


Berbahagialah jika memang suatu ketika harus berdebat dengan orang lain, perdebatan bisa menjadi jalan menjalin hubungan dengan catatan, dalam perdebatan itu kita tetap menahan emosi dan keanggunan. Saya menemukan kisah bagus dalam buku “7 Kesalahan Terbesar Orang Tua”. Dikisahkan di sana seorang suami yang selalu menghindari masalah dalam keluarganya. Jika terjadi perdebatan dengan istrinya dia lebih suka mengalah, dan membiarkan si istri berbuat sekehendak hatinya. Dan karena si istri lahir dari keluarga yang disiplin, cara mendidik anaknya dengan keras dan itu membuat si anak senang melawan. Melihat kenyataan itu, Eric jadi semakin sungkan berlama-lama tinggal di rumah, seringnya dia pergi keluar, mencari ketenangan. Masalah pun semakin rumit.
Kemudian suami istri itu mendatangi psikolog untuk mengkonsultasikan masalah ini. Mereka ceritakan segala masalah yang mereka alami. Ketika psikolog menanyakan bagaimana pola penyelesaian di keluarga Eric dulu, Eric menjelaskan bahwa ayahnya sama seperti dia, lebih suka menghindari masalah jika terjadi perdebatan dengan ibunya, dan itu membuat Eric takut membela diri dan memperlihatkan kemarahan secara terbuka.
Erik menjadi suami yang takut membela diri dan menyatakan kemarahan secara terbuka. Seperti ayahnya, Eric lebih suka mengalah pada Pamela, istrinya, dan dengan melakukan ini, sebenarnya dia mengecewakan istrinya. Eric membiarkan istrinya bertindak sesukanya sesuai yang dia yakini sekalipun tindakan istrinya itu membahayakan dirinya, anaknya, dan si istri sendiri.
Itulah sebabnya, sikap Eric yang senangnya mengalah kepada istrinya menjadi masalah dalam keluarganya. Di depan psikolog dia menjelaskan: “Jadi, salah satu kelemahan masa kecil saya adalah ketakutan mengungkapkan diri sendiri, menyebabkan saya  selalu mengalah sepanjang waktu.”
Istrinya berkata, bahwa setiap kali muncul masalah, dia berharap Eric turun tangan dan menghentikannya. Eric menjawab, bahwa jika dia melakukan itu, Pamela akan marah kepadanya. Sang psikolog bertanya pada Eric, apakah dia mau menghadapi kemarahan pamela sebentar?. Eric menjawab, mungkin saja dia biasa, akan tetapi dia tidak akan menyukainya. Kemudian Eric berkata kepada istrinya:”Pamela, aku harap kau lebih bisa mengusai diri. Kamu telah memanjakan Bobby sejak lahir karena kau ingin melampiaskan...”
Mendengar itu, kemarahan istrinya mulai tampak. Segera psikolog berkata: “Eric, hentikan!”, dan Eric berhenti, kemudian kata psikolog lagi: “Kami ingin Anda mengulang apa yang Anda katakan, tetapi tanpa mempermalukan, menyalahkan, menuduh atau membuat analisis psikologis. Apa yang benar-benar Anda inginkan dari Pamela di masa mendatang?”
Eric berkata: “Pamela, aku akan berusaha turun tangan seperti yang kau minta. Yang aku inginkan adalah kau mengatakan kepadaku ketika kau merasa ingin menyerah kepada perasaan-perasaan itu—beri tanda kepadaku dengan cara apa pun.”
Wajah Pamela melunak dan dia berkata: “Aku bisa mengusahakannya Eric. Aku sangat terbantu hanya dengan mengetahui kau mau mendengar apa yang kurasakan tentang ini. jadi aku tidak akan merasa begitu terkucil dan sendiri dengan perasaan-perasaan ini.”
“Mengungkapkan perasaan akan mengurangi banyak kekuatan perasaan-perasan itu,” kami berkata,”Dan berbagi perasaan kalian—sekalipun sedang marah—akan saling mendekatkan kalian.
Kedua suami istri itu memahaminya. Mereka menyadari, semakin mereka terpisah, semakin dekat mereka jadinya. Mereka mulai melihat, bahwa masing-masing mempunyai masalah sendiri yang harus diatasi dan tidak ada yang melakukan pergulatan itu untuk mereka. Ini proses yang disebut individuasi. Pada waktu yang sama, mereka mulai melihat bahwa mereka dapat menjadi sekutu masing-masing dalam pergulatan itu—mereka tidak perlu menghadapi masalah dalam kesendirian. Dan kemudian psikolog itu meminta mereka mengatakan apa yang mereka hargai tentang masalah masa kecil masing-masing, yang membuat keduanya terdiam sesaat.
Pamela akhirnya berkata: “Eric, aku benar-benar menyukai kelembutan dan keinginanmu untuk menekan konflik. Itu salah satu alasan mengapa aku jatuh cinta kepadamu.
Eric berkata: “Pamela, aku menyukai kenyataan bahwa kau begitu teratur dan begitu ingin membuat hidup Bobby menyenangkan. Kau ibu yang baik.”
Mata Pamela berkaca-kaca: “Oh, Eric,” katanya. “Ini bukan akhir perkawinan kita. ini justeru permulaan.”
Eric tersenyum dan menanggapi, “Bukankah ini menakjubkan? Sehari setelah kita mengira segalanya selesai adalah hari semuanya dimulai. Sudah lama sekali kita memerlukan pertengkaran itu.
Pamela berkata, “Aku tahu. Ini sudah menumpuk. Dan kita berdua terlalu takut mengeluarkannya sampai saat ini. Rasanya jauh lebih baik.”
Kisah itu kembali memberikan pelajaran penting kepadaku, konflik yang terjadi bersama orang lain itu justeru kesempatan menyambungkan kasih sayang dengan orang tersebut. Masalah dalam hubungan dengan orang adalah peluang mempererat hubungan itu.

SIALNYA SI RENDAH HATI





Hilangkan saja rendah hati dari perbendaharaann bahasa kita. Sudah terlalu banyak orang membicarakan ini. Guru, orang tua, penceramah, motivator, buku-buku, majalah, semua mengajak untuk bersikap rendah hati: satu hal yang sangat membosankan, dan sudah saatnya telinga kita tutup.
Orang rendah hati beranggapan, sikapnya itu sebagai peningkatan spiritual, padahal dia sendiri tidak tahu apa sebenarnya arti spiritual itu. Jadilah peningkatan spiritual tinggal sebagai bualan bualan. Sebab ternyata seringkali, dia merasa kagum dengan kehebatan dirinya, dan sakit hati ketika mendapatkan perlakuan menghinakan dari orang lain.
Orang rendah hati punya kebiasaan suka menghina-hinakan diri. Refleski dari karakternya yang senang mengeluh dan lupa dengan karunia. Orang lain dianggapnya serba lebih sehingga dia senang memuji secara berlebhan. Dalam bergaul dia senangnya menjilat, mengira dengan begitu dia bisa mengundang suka orang. Padahal, sikapnya hanya membuat orang jadi sebal.
Orang rendah hati akan suka mengorbankan diri demi membahagiakan orang lain.  Hidupnya seperti lilin, orang lain dia dia beri cahaya supaya terang, sementara dirinya sendiri meleleh hancur. Orang banyak menyukainya sebab orang rendah hati bisa dengan mudahnya mereka suruh-suruh. Tentu saja atasan lebih suka karyawan yang rendah hati, sebab karyawan semacam ini takkan berani melawan meskipun pemimpin salah.
Kalau dia seorang ayah, tentu saja anak-anak akan menyukainya, sebab si ayah akan membadut menghinakan di depan anaknya, sehingga si anak bisa dengan seenaknya memperlakukan si ayah tanpa sopan santun. Jika dia seorang ibu, juga pasti akan disukai anaknya, sebab si anak meresa nyaman melakukan apapun sebab toh, keburukan apapun dia lakukan si ibu takkan sanggup menegur. Meski pun usianya tua, si ibu akan merasa dirinya kurang, sementara anaknya lebih cerdas, dan bisa saja lebih bijak dari dirinya.
Pemimpin rendah hati mudah sekali ditentang. Begitu mudah kebijakannya dia dilawan, dan sama sekali pemimpin semacam ini tak akan mempertahankan prinsipnya meskipun benar. Dirinya merasa, ilmunya masih terlalu rendah, maka dia merasa malu untuk mempertahankan prinsip. Prinsipku bisa saja salah, dan rakyatku kemungkinan besar benar.
Program yang ingin dia jalankan selalu kacau, sebab salah satu ciri orang rendah hati adalah, mau mendengarkan kritikan orang. Baru juga mulai mengerjakan, sudah datang orang mengkritik, menyalahkan, dan pemimpin itu kembali lagi memulai dari awal. Katanya mendengar biasa memecahkan sebagian masalah yang dihadapi, tapi kenyataannya, mendengar malah bisa menambah masalah. Mendengarkan orang lain malah membuat program jadi kacau dan tujuan jadi berantakan. Sebab yang bagus adalah tuli dari apapun pendapat orang, dan tak usah pedulikan apa kata mereka. Ingat cerita seorang bapak yang mau menjual keledai ke pasar bersama anaknya, karena terlalu banyak mendengar pendapat orang, apapun yang dia lakukan jadi serba salah.
Dalam musyawarah, pendapat seorang yang rendah hati seringkali tenggelam dimakan malu. Waktu dia ulur dengan alasan mencari kesempatan yang tepat. Orang teriak lantang menyampaikan aspirasi, dia lebih suka diam dulu mempertimbangkan pendapat dirinya. Akhinya waktu habis, keputusan diambil berdasarkan pendapat orang lain yang justru salah.
Kasihan sekali, dia selalu menjadi kambing hitam dalam kelompok. Menu hariannya adalah disalahkan orang lain, sebab dialah satu-satunya orang yang berani mengakui kesalahan, sementara orang lain egois dan kuat dalam berargumen, tidak mau begitu saja disalahkan orang lain. Dia terlalu peduli dengan perasaan orang lain, padahal dia tahu siapa yang salah, namun salah itu dia sembunyikan, dan dirinya saja yang tampil mengaku salah.