Hilangkan saja rendah hati dari perbendaharaann bahasa kita.
Sudah terlalu banyak orang membicarakan ini. Guru, orang tua, penceramah,
motivator, buku-buku, majalah, semua mengajak untuk bersikap rendah hati: satu
hal yang sangat membosankan, dan sudah saatnya telinga kita tutup.
Orang rendah hati beranggapan, sikapnya itu sebagai peningkatan
spiritual, padahal dia sendiri tidak tahu apa sebenarnya arti spiritual itu. Jadilah
peningkatan spiritual tinggal sebagai bualan bualan. Sebab ternyata seringkali,
dia merasa kagum dengan kehebatan dirinya, dan sakit hati ketika mendapatkan
perlakuan menghinakan dari orang lain.
Orang rendah hati punya kebiasaan suka menghina-hinakan
diri. Refleski dari karakternya yang senang mengeluh dan lupa dengan karunia.
Orang lain dianggapnya serba lebih sehingga dia senang memuji secara berlebhan.
Dalam bergaul dia senangnya menjilat, mengira dengan begitu dia bisa mengundang
suka orang. Padahal, sikapnya hanya membuat orang jadi sebal.
Orang rendah hati akan suka mengorbankan diri demi
membahagiakan orang lain. Hidupnya
seperti lilin, orang lain dia dia beri cahaya supaya terang, sementara dirinya
sendiri meleleh hancur. Orang banyak menyukainya sebab orang rendah hati bisa
dengan mudahnya mereka suruh-suruh. Tentu saja atasan lebih suka karyawan yang
rendah hati, sebab karyawan semacam ini takkan berani melawan meskipun pemimpin
salah.
Kalau dia seorang ayah, tentu saja anak-anak akan
menyukainya, sebab si ayah akan membadut menghinakan di depan anaknya, sehingga
si anak bisa dengan seenaknya memperlakukan si ayah tanpa sopan santun. Jika
dia seorang ibu, juga pasti akan disukai anaknya, sebab si anak meresa nyaman
melakukan apapun sebab toh, keburukan apapun dia lakukan si ibu takkan sanggup
menegur. Meski pun usianya tua, si ibu akan merasa dirinya kurang, sementara
anaknya lebih cerdas, dan bisa saja lebih bijak dari dirinya.
Pemimpin rendah hati mudah sekali ditentang. Begitu mudah
kebijakannya dia dilawan, dan sama sekali pemimpin semacam ini tak akan
mempertahankan prinsipnya meskipun benar. Dirinya merasa, ilmunya masih terlalu
rendah, maka dia merasa malu untuk mempertahankan prinsip. Prinsipku bisa saja
salah, dan rakyatku kemungkinan besar benar.
Program yang ingin dia jalankan selalu kacau, sebab salah
satu ciri orang rendah hati adalah, mau mendengarkan kritikan orang. Baru juga
mulai mengerjakan, sudah datang orang mengkritik, menyalahkan, dan pemimpin itu
kembali lagi memulai dari awal. Katanya mendengar biasa memecahkan sebagian
masalah yang dihadapi, tapi kenyataannya, mendengar malah bisa menambah
masalah. Mendengarkan orang lain malah membuat program jadi kacau dan tujuan jadi
berantakan. Sebab yang bagus adalah tuli dari apapun pendapat orang, dan tak
usah pedulikan apa kata mereka. Ingat cerita seorang bapak yang mau menjual
keledai ke pasar bersama anaknya, karena terlalu banyak mendengar pendapat
orang, apapun yang dia lakukan jadi serba salah.
Dalam musyawarah, pendapat seorang yang rendah hati seringkali
tenggelam dimakan malu. Waktu dia ulur dengan alasan mencari kesempatan yang
tepat. Orang teriak lantang menyampaikan aspirasi, dia lebih suka diam dulu
mempertimbangkan pendapat dirinya. Akhinya waktu habis, keputusan diambil
berdasarkan pendapat orang lain yang justru salah.
Kasihan sekali, dia selalu menjadi kambing hitam dalam
kelompok. Menu hariannya adalah disalahkan orang lain, sebab dialah
satu-satunya orang yang berani mengakui kesalahan, sementara orang lain egois
dan kuat dalam berargumen, tidak mau begitu saja disalahkan orang lain. Dia
terlalu peduli dengan perasaan orang lain, padahal dia tahu siapa yang salah,
namun salah itu dia sembunyikan, dan dirinya saja yang tampil mengaku salah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar