Berbahagialah
jika memang suatu ketika harus berdebat dengan orang lain, perdebatan bisa
menjadi jalan menjalin hubungan dengan catatan, dalam perdebatan itu kita tetap
menahan emosi dan keanggunan. Saya menemukan kisah bagus dalam buku “7
Kesalahan Terbesar Orang Tua”. Dikisahkan di sana seorang suami yang selalu
menghindari masalah dalam keluarganya. Jika terjadi perdebatan dengan istrinya
dia lebih suka mengalah, dan membiarkan si istri berbuat sekehendak hatinya.
Dan karena si istri lahir dari keluarga yang disiplin, cara mendidik anaknya dengan
keras dan itu membuat si anak senang melawan. Melihat kenyataan itu, Eric jadi semakin
sungkan berlama-lama tinggal di rumah, seringnya dia pergi keluar, mencari
ketenangan. Masalah pun semakin rumit.
Kemudian suami
istri itu mendatangi psikolog untuk mengkonsultasikan masalah ini. Mereka
ceritakan segala masalah yang mereka alami. Ketika psikolog menanyakan
bagaimana pola penyelesaian di keluarga Eric dulu, Eric menjelaskan bahwa
ayahnya sama seperti dia, lebih suka menghindari masalah jika terjadi perdebatan
dengan ibunya, dan itu membuat Eric takut membela diri dan memperlihatkan
kemarahan secara terbuka.
Erik menjadi
suami yang takut membela diri dan menyatakan kemarahan secara terbuka. Seperti
ayahnya, Eric lebih suka mengalah pada Pamela, istrinya, dan dengan melakukan
ini, sebenarnya dia mengecewakan istrinya. Eric membiarkan istrinya bertindak
sesukanya sesuai yang dia yakini sekalipun tindakan istrinya itu membahayakan
dirinya, anaknya, dan si istri sendiri.
Itulah
sebabnya, sikap Eric yang senangnya mengalah kepada istrinya menjadi masalah
dalam keluarganya. Di depan psikolog dia menjelaskan: “Jadi, salah satu
kelemahan masa kecil saya adalah ketakutan mengungkapkan diri sendiri,
menyebabkan saya selalu mengalah
sepanjang waktu.”
Istrinya
berkata, bahwa setiap kali muncul masalah, dia berharap Eric turun tangan dan
menghentikannya. Eric menjawab, bahwa jika dia melakukan itu, Pamela akan marah
kepadanya. Sang psikolog bertanya pada Eric, apakah dia mau menghadapi kemarahan pamela sebentar?. Eric menjawab, mungkin saja dia biasa, akan
tetapi dia tidak akan menyukainya. Kemudian Eric berkata kepada
istrinya:”Pamela, aku harap kau lebih bisa mengusai diri. Kamu telah memanjakan
Bobby sejak lahir karena kau ingin melampiaskan...”
Mendengar itu,
kemarahan istrinya mulai tampak. Segera psikolog berkata: “Eric, hentikan!”,
dan Eric berhenti, kemudian kata psikolog lagi: “Kami ingin Anda mengulang apa
yang Anda katakan, tetapi tanpa mempermalukan, menyalahkan, menuduh atau
membuat analisis psikologis. Apa yang benar-benar Anda inginkan dari Pamela di
masa mendatang?”
Eric berkata:
“Pamela, aku akan berusaha turun tangan seperti yang kau minta. Yang aku
inginkan adalah kau mengatakan kepadaku ketika kau merasa ingin menyerah kepada
perasaan-perasaan itu—beri tanda kepadaku dengan cara apa pun.”
Wajah Pamela melunak
dan dia berkata: “Aku bisa mengusahakannya Eric. Aku sangat terbantu hanya
dengan mengetahui kau mau mendengar apa yang kurasakan tentang ini. jadi aku
tidak akan merasa begitu terkucil dan sendiri dengan perasaan-perasaan ini.”
“Mengungkapkan perasaan akan mengurangi
banyak kekuatan perasaan-perasan itu,” kami berkata,”Dan berbagi perasaan kalian—sekalipun sedang marah—akan saling
mendekatkan kalian.”
Kedua suami
istri itu memahaminya. Mereka menyadari, semakin mereka terpisah, semakin dekat
mereka jadinya. Mereka mulai melihat, bahwa masing-masing mempunyai masalah
sendiri yang harus diatasi dan tidak ada yang melakukan pergulatan itu untuk
mereka. Ini proses yang disebut individuasi. Pada waktu yang sama, mereka mulai
melihat bahwa mereka dapat menjadi sekutu masing-masing dalam pergulatan
itu—mereka tidak perlu menghadapi masalah dalam kesendirian. Dan kemudian
psikolog itu meminta mereka mengatakan apa yang mereka hargai tentang masalah
masa kecil masing-masing, yang membuat keduanya terdiam sesaat.
Pamela
akhirnya berkata: “Eric, aku benar-benar
menyukai kelembutan dan keinginanmu untuk menekan konflik. Itu salah satu
alasan mengapa aku jatuh cinta kepadamu.”
Eric berkata:
“Pamela, aku menyukai kenyataan bahwa kau begitu teratur dan begitu ingin
membuat hidup Bobby menyenangkan. Kau ibu yang baik.”
Mata Pamela
berkaca-kaca: “Oh, Eric,” katanya. “Ini bukan akhir perkawinan kita. ini
justeru permulaan.”
Eric tersenyum
dan menanggapi, “Bukankah ini menakjubkan? Sehari setelah kita mengira
segalanya selesai adalah hari semuanya dimulai. Sudah lama sekali kita memerlukan pertengkaran itu.”
Pamela
berkata, “Aku tahu. Ini sudah menumpuk. Dan kita berdua terlalu takut
mengeluarkannya sampai saat ini. Rasanya jauh lebih baik.”
Kisah itu kembali
memberikan pelajaran penting kepadaku, konflik yang terjadi bersama orang lain
itu justeru kesempatan menyambungkan kasih sayang dengan orang tersebut. Masalah
dalam hubungan dengan orang adalah peluang mempererat hubungan itu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar