Senin, 06 Mei 2013
NAFSU SYAHWAT BERGELAR CINTA (Apresiasi Karya Ungu Violet: Mencinta Dalam Hening)
Sederhana dan telah banyak orang yang bahas, tetapi siapapun membaca tulisan ini akan terbawa hanyut, sebab kiranya siapa saja merasa, apa yang dia baca di sini, adalah pengalamannya sendiri, atau setidaknya, dia pernah merasakannya. Apa yang Ungu Violet sajikan relevan dengan pengalaman kebanyakan orang. Jujur dia menuliskannya penuh emosi, sebagai curahan hati, waktu dia merasakan ketertarikan kepada lawan jenis
Kukira, INI JAUH LEBIH BAIK, dari pada puisi seseorang yang sebenarnya, sedang mengakspresikan nafsu syahwat kepada lawan jenis, tetapi ketika saya tanyakan benarkah itu, dia berkilah dan berkilah, berkelit dan berkelit, dan malah menyamarkannya dengan mambahas cinta kepada hal lain, seperti orang tua, teman, saudara, kepada nabi dan Alloh. Memalukan!
Sekali lagi, tulisan ini jauh, jauh, dan jauh lebih baik, meski penyajiannya terkesan polos dan sederhana. Setidaknya dengan curhatnya, penulis membawa pembaca ke arah yang jelas, mempertanyakan perasaan aneh yang sedang dialaminya. Kata orang dan bacaan-bacaan, perasan ini disebut dengan cinta, dan cinta itu sebuah kata yang baik dan mulia, akan tetapi dia menemukan pertentangan, KALAU MEMANG CINTA SEBUAH KEBAIKAN DAN KEINDAHAN, MENGAPA DIA MERASAKANNYA SEBAGAI SEBUAH KESENGSARAAN. Jujur dan jujur sekali penulis yang satu ini bergumam:
“Tapi, jika ini cinta, mengapa sakit sekali. Apakah cinta dan mencinta memang sakit? Jika ini cinta, bukankah seharusnya aku bahagia karena punya cinta? Bukankah hidup menjadi penuh warna dengan cinta? Bukankah cinta adalah semangat, tapi mengapa aku jadi lemah begini? Bukankah cinta adalah anugerah terindah, karena tanpa cinta hidup menjadi pekat? Bukankah…? Entahlah, rumit bagiku menafsirkan rasa ini.”
Menjawab keheranannya itu, saya takan ragu berteriak dekat telinganya: “Karena yang kamu rasakan itu NAFSU SYAHWAT, benar memang cinta, namun cinta dengan hakikat nafsu syahwat.”
Ketika seorang manusia beranjak dewasa, fungsi reproduksinya berjalan, tubuh pria menghasilkan hormon testosteron dan wanita menghasilan hormon estrogen dan progesteron, di mana hormon tersebut merangsang ketertarikan mereka kepada lawan jenis sebagai sarana bagi mereka melakukan reproduksi. Dengan kata lain, mereka merasakan ketertarikan seksual, dan ingin melakukan hubungan seksual.
Karena seks yang normal hanya bisa dilakukan dengan lawan jenis, maka tentu saja rasa tertarik itu timbul kepada lawan jenis. Timbullah hasrat yang besar kepada lawan jenis. Akan tetapi, karena belum menemukan penyaluran yang tepat, akibatnya si remaja yang merasakannya jadi galau, sedih, frustasi, stres dan bingung, semacam kelaparan yang dirasakan oleh seorang yang tidak menemukan apapun buat dia makan.
Karena perasaan itu begitu mendesak, orang-orang mengkspresikannya ke dalam karya, yang sebagiannya berupa syair puisi dan lirik lagu, dan dalam karya-karyanya ini, mereka menamakan hasrat seks ini dengan kata CINTA. Jelas ini degradasi makna yang susah direvisi, yang sialnya, sebagian besar orang tidak mau berpikir, mereka menerimanya begitu saja, bahkan terus mewariskannya dari generasi ke generasi, tanpa seorang pun peduli dan mau meluruskan. Dan karena cinta ini telah menjadi nama lain dari hasrat seks, maka para para pelacur pun mendapatkan julukan terhormat: Para Penjaja Cinta.
Padahal sudah jelas, apa yang orang sangka sebagai cinta ini sebenarnya nafsu syahwat, dan Alloh, Pencipta perasaan ini hanya mengajarkan, nafsu syahwat itu harus ditahan, lebih tepatnya dikendalikan, sebab jika dibiarkan bebas, “Sesungguhnya nafsu itu hanya menyuruh kepada keburukan.”
Maka inilah jawaban dari pertanyaan jujur penulis:
“Jika ini cinta, mengapa sakit sekali. Apakah cinta dan mencinta memang sakit? Jika ini cinta, bukankah seharusnya aku bahagia karena punya cinta? Bukankah hidup menjadi penuh warna dengan cinta? Bukankah cinta adalah semangat, tapi mengapa aku jadi lemah begini? Bukankah cinta adalah anugerah terindah, karena tanpa cinta hidup menjadi pekat? Bukankah…? Entahlah, rumit bagiku menafsirkan rasa ini.”
Ungu bertanya: “Mengapa menyakitkan?”
Jawabannya sangat gampang: “Jelas menyakitkan, karena yang kamu sebut cinta itu bukan cinta, tetapi nafsu syahwat, yang jika kamu mengikutinya, tanpa pengendalian yang benar menurut agama, maka yang kamu ikuti hanyalah keburukan, dan piagam penghargaan bagi orang yang mengikuti keburukan hanyalah piagam bernama kesusahan.”
Ungu bertanya: “Bukankah seharusnya aku bahagia?”
Ya, jika cinta itu berupa pengabdian yang ikhlash kepada Alloh, akan tetapi cinta yang kamu rasakan ini hanyalah cinta dengan hakikat nafsu, dan orang yang mengikuti nafsu, semua orang sudah tahu jawabannya.
Bukankah dengan mencinta seharusnya aku semangat? Bukanlah tanpa cinta hidup menjadi pekat? Dan pernyataan berikutnya yang menggugat.
So, simpel, untuk semua keheranan Ungu itu satu kalimat saja jawabannya: KARENA YANG KAMU SANGKA SEBAGAI CINTA, ITU SEBENARNYA NAFSU SYAHWAT.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar