Sabtu, 04 Mei 2013
NARASI BASI
Ini adalah basi kebanyakan hubungan:
Sepasang manusia mengawali rumah tangga
Dengan janji indah berbunga-bunga
Kata demi kata manis bermadu
Saling berbalas kata ay laf yu
Tak nyana indah itu seumur padi
Masalah pun warnai hari-hari
Mesra sayang-sayangan entah ke mana pergi
Dan tertulislah di buku harian sang istri:
"Hei, kemanakah si hati lembut itu?
Yang dulu menjadi sanjung puja kala bertemu
Hei, sudah lenyapkah hasrat baik itu?
Dalam sebuah titik hitam yang terpupuk nafsu
Ah tak kusangka dunia punya rahasia hebat tak terduga
Ketika satu celah kecil telah merobek satu kain sutra"
Itulah sebabnya kupandang
Ada satu kata yang mesti ditendang
Yang orang memujanya padahal menyesatkan
Yang buat rumah tangga, tak terlalu dibutuhkan
CINTA, pertanyakan kembali kata itu........
BAU PETAI
Tapak kakiku memanjang di bibir pantai
Kupungut cangkang-cangkang kerang untuk kurangkai
Menjadi hiasan dinding yang nanti kubingkai
Kuhiasi untai-untai, kuwarnai dengan warna berbagai
Lama kubekerja tak selsai-selasai
Tuntasnya tak sampai-sampai
Gemas kulempar ke lantai
Pecah tercerai-berai
Anak kecil mendekat kucegah: HAI
Kadung mendekat, kakinya tertusuk, berdarah menangis ramai
Salah anak itu atau aku yang lalai
Ah, pasti semua menyalahkanku, dasar manusia-manusia lebay
Nah, sekarang aku bertanya pada orang yang merasa terbantai
Apakah kuingin tulisanku kau baca? NO WAY
Tapi picik otakmu akan menyalahkanku, dan ngomong dengan nafas bau petai
INI CUMA KENCING AKU
Palingkan matamu segera
Masih banyak hal lain berguna
Kenapa kamu baca ocehanku?
Membaca ocehanku buang-buang waktu
Apa? Ini puisi?
Buka lebar-lebar mata kamu! Rendam dengan deterjen!
SIKAT!
Rongsokan butut begini kamu katakan puisi!
Sikat matamu lebih keras lagi
Lihat ke sini
Ini kencing aku
Yang tertahan semalaman, lalu kusemburkan sekarang
Keliru jika kamu suka, aku sendiri murka
Tapi lebih murka pada si tukang puisi
Yang senangnya menyemprotkan pilox emas
Ke bajunya, ke wajahnya, ke rambutnya
Biar dirinya tampak emas
TIDAK WARAS
TUKANG PUISI DAN ROKOK
Pernah kulihat tukang puisi,
Konsumsi sehari-harinya asap rokok
Maka melihat tukang puisi itu
Aku serasa melihat rokok
Membanting, meremas, dan menginjak-injak
Perlakuan yang kubayangkan untuknya
Perokok, sejahat-jahat aku masih jahat perokok
Minuman keras dimusnahkan tapi mengata juga tidak rokok
Peminum alkohol dikutuk, tapi mengapa tidak si perokok
Perokok lebih kriminal dari pemabuk
Perokok lebih kriminal dari pemabuk
Perokok lebih kriminal dari pemabuk
Saksikan olehmu, PEROKOK LEBIH KRIMINAL DARI PEMABUK
Pemabuk mabuk buat dirinya saja dia mabuk
Tapi perokok merokok asap rokok bikin orang lain mengok
TUKANG PUISI OTAK BUSUK
Wakililah mereka yang selalu bertopengkan wajah munafik
Yang kerjanya menyusun kata demi citra diri yang baik
Mungkin mereka ingin manusia mengikuti ajarannya
Jadikan tulisannya bak ayat-ayat suci
Sini antarkan untukku secangkir kopi biar kutumpahkan
Lalu tuangkan saja darah, itu lebih menyegarkan
Jangan sok baik, aku tahu di balik itu ada nafsu licik
Jujur saja tak usah malu
Otak busuk penuh belatung, telah ada di banyak orang
Seperti tukang puisi yang gadang semalaman, lalu SUBUH KESIANGAN
Yang bangunnya terkalahkan ayam
Katakan padanya, si penulis puisi sok alim itu, lebih baik jadi musang
Makan saja ayam, dengan bulu dan kotorannya
Huh, memang lebih tampan wajah musang!
Aku jijik melihat mukaku, tapi lebih jijik melihat mukanya
Dan mukamu kulihat dalam cermin, CERMIN PECAH!
Terpecahkan dusta dari kata-kata tak nyata
PENDUSTA
Kamu yang senang mengarang cerita
Maukah kamu mengakui dirimu seorang pendusta
Kamu tidak mau mengaku pun sudah kembali sebuah dusta
Mengatakan kejadian yang tidak pernah terjadi adalah dusta
Dan itulah yang dilakukan oleh kebanyakan penulis cerita
Pengadilan dalam sejarah telah berdiri lama
Tempat di mana kebenaran ditegakkan
Tempat prinsip dipertahankan
Tempat keadilan ditinggikan
Tapi bebaskan dari dusta
Siapa pun takkan memutar kata
Pengadilan penuh dusta bukanlah maya
Jadi mengapa kamu mengelak, ketika kukatakan kamu pendusta
Kamu menulis cerita, dan berusaha seakan ceritamu nyata
Dan kamu sebarkan kepada orang lain supaya dibaca
Itu penyebaran dusta
Masihkan kamu memasang bata,
Demi bentengi dirimu dari label pendusta
Yang Selalu Resah
Dana
PUISI SAMPAH
Puisimu hanyalah sampah
Isinya lebih parah dari bedebah
Lebih baik kau tulis saja sumpah serapah
Seruan pada manusia untuk menjarah
Lebih baik buku-buk pemicu revolusi berdarah
Yang telah lama membentuk sejarah
Segala yang kamu tuliskan hanyalah omongan lemah
Membuat pembaca dekat denganmu tak pernah betah
Kutukilah aku, cercalah aku, tapi aku takkan jengah
Meneriakkan kejujuran aku takkan pernah lelah
Demi tumpasnya puisimu yang hanya seoongok sampah
Isinya lebih parah dari bedebah
Lebih baik kau tulis saja sumpah serapah
Seruan pada manusia untuk menjarah
Lebih baik buku-buk pemicu revolusi berdarah
Yang telah lama membentuk sejarah
Segala yang kamu tuliskan hanyalah omongan lemah
Membuat pembaca dekat denganmu tak pernah betah
Kutukilah aku, cercalah aku, tapi aku takkan jengah
Meneriakkan kejujuran aku takkan pernah lelah
Demi tumpasnya puisimu yang hanya seoongok sampah
HIDUPLAH TANPA CINTA
Yang dulu kau panggil cinta
Kenalilah dia itu nafsu
Kenapa mengikutinya menyusahkanmu
Ya, tentu saja sebab dia hanyalah nafsu
Bagai menenggak air garam
Makin kau tenggak makin kehausan
Pesan yang bikin bosan
Tapi aku hanya mendengarkanmu.....
Kau katakan dirimu galau, meratapinya hingga kau parau
Kehilangan malam dengan hangatnya
Terjaga dalam sengsara
Memetik kecewa memeluk duka
Terabaikan dan dibiarkan
Air mata rasa hina
Saat kau begitu memujanya...
.............
Asal kamu tahu
Sebenarnya dia nafsu
Yang bertopeng cinta dengan sya'ir dan lagu
Warisan kaum penyembah batu
Mengikutinya jadikanmu dungu
Menentangnya keputusan jitu
AKU KELELAHAN
Bukan, bukan kekecewaan
Bukan kekecewaan yang membuatku lelah
Tapi kepuasan dan kepuasan
Melihat bukti demi bukti
Berita tentang para pemuja cinta
Yang nista sua kecewa
Mau sampai berapa ratus ribu
Kau makan korban-korbanmu
Wahai cinta bernyawa nafsu?
Dia ulurkan tangan cinta
Tersambut senyuman saja
Namun dia percaya
Senyuman itu hadiah terbesarnya
Lalu dia berkorban
Memuji memuja, memberi kiriman
Hadiah tak terhitungkan
Coklat dan boneka jangan ditanya
Kaset lagu cinta ah itu biasa
Mengantar jemput ke mana-mana
Dan suatu hari yang cerah
Jawaban segala korban itu adalah
Kita sampai di sini saja
Rasaku sudah tak ada
Selamat menenggak racun
Hanguslah itu ubun-ubun
Datangkanlah lagi silahkan datang
Siapa lagi sang bintang
Sang tokoh jiwa terguncang
Tokoh berantakan terbuang
Dari kisah cinta yang malang?
Sang Penentang
Dana
GOBLOK ADA BATASNYA
Kapan kamu mau sadar
Ambisimu tak kelar-kelar
Berhenti meratapinya
Itu tak pernah guna
Sabar ada batasnya, kamu kata
Goblok juga ada batasnya, aku kata
Kau kira lamunanmu bisa menggapai
Tidak, malah merintangimu dari sampai
Tinggalkanlah dan lupakan
Rasamu padanya sudah terabaikan
Mengapa terus haru dalam rasa tak tentu
Sabar ada batasnya, kamu kata
Goblok juga ada batasnya, aku kata
Kamu tahu, kamu harus tahu
Atau kamu sudah tahu?
Atau tak pernah mau tahu?
Korbanmu padanya hanya tanda
Kamu tidak layak buatnya
Jika memang layak kamu buatnya
Mengapa pake berkorban segala
Sabar ada batasnya, kamu kata
Goblok juga ada batasnya, aku kata
Putus asalah cepat, itu lebih baik
Siapa larang putus asa pada orang
Buka lagi koleksi hafalanmu
Putuskan saja cepat putuskan
Pensiun hidup di sekitarnya
Lepaslah, dunia ini luas
Orang itu banyak
Tobatlah dari sebuah kata
Yang selama ini kau sangka cinta
Sabar ada batasnya, kamu kata
Goblok juga ada batasnya, aku kata
Puitis?
Aku tak butuh.
Ini bukan puisi
Ini protes
Atas diriku
Atas dirimu
Atas semua nafsu
Yang bebas belenggu
Lalu bengkak terpalu-palu
Pemberontak
Dana
DURIAN
Duri di luar, manis di dalam
Begitulah asalnya
Di pulauku lain
Manis di luar, duri di dalam
Aku mencoba membukanya, dan begitulah memang adanya
Datang ke mimbar bersya'ir indah
Isi perut ternyata sampah
Tebar pesona berpuisi ria
Rupanya berjiwa pembunuh
Putus asa beradu kata
Teror memalukan dilancarkannya
Katakan saraf pada orang
Dirinya kasar bukan kepalang
Setahuku, orang saraf itu yang suka ngamuk-ngamuk!
Mengaku berjiwa kuat
Buktinya mental sekarat
Yang merasa aneh
Dana
BERTEKUK LUTUT
Di hadapanmu wahai cinta
Akhirnya aku bertekuk lutut
Rasaku padamu larut
Hatiku jadi kemayu
Hasratku mau merayu
Damaiku tidak terperi
Di sampingmu terusir sepi
Dengarkan sayang, aku berjanji
Kan kutemukan selainmu yang lebih baik lagi...
Sayangku,
Inginku kini, hanya kebahagiaanmu
Demi kamu
Mobil mewah berani kubeli
Rumah megah kuraih pasti
Seluler terbaru, ah jangan tanya lagi
Kubelikanmu pakaian terindah
Sendal termahal, parfum terwangi
Ingin, sungguh kuingin membawamu
Wisata keliling dunia, ke Taj Mahal ke Tembok Cina
Aku tidak dusta, sungguh aku ingin
Asalkan semua itu,
Uangnya mutlak darimu
Sebab di hadapanmu wahai cinta
Kini aku bertekuk lutut
Mengambil ancang-ancang
Buat meloncat
Memukulmu hingga sekarat!
Pemberontak
Dana
RAJAKU NGAMUK
Ingatanku pergi
Ke masa kecilku yang sepi
Waktu itu, kumenatap sendiri
Sebuah karikatur
Dua orang bermain catur
Satu cerdas, satu terdesak, susah kabur
Satu di atas angin, satu tertiup angin, limbung
Satu masih kuat, satu tinggal raja
Yang tinggal raja kehilangan cara
Akhirnya dia pegang si raja,
Membantingnya kanan kiri
Mengacak-acak papan catur
"Rajaku ngamuk! Rajaku ngamuk"
Sinting!
Yang putus asa, kalah berkata....
Argumennya sepanjang hasta....
Tapi tetap ingin memaksa....
Teror membunuh senjata pamungkasnya
Aku tidak takut
Hanya keningku berkerut
Bagaimana bisa, kok bisa, kenapa bisa.....?????
Lalu mana puisi religiusnya?
Sekedar ceracau ngigau
Atau coretan kurang kerjaan...
Di dalam rumah tangga
Begitulah prilaku KDRT
Sementara istri begitu lihainya mengolah kata
Sang suami terkapar tidak berdaya
Akalnya turun ke dada, memompa jantung
Darah naik, tangan mengacung
Menampar, menyiksa
Kehabisan akal
Teror fisik caranya
"Rajaku ngamuk...Rajaku ngamuk."
Yang merasa aneh
Dana
Langganan:
Postingan (Atom)